PTIMASI HUTAN (RTH) SEBAGAI PENGHASIL OKSIGEN KOTA MALANG

Berbagai sektor aktivitas masyarakat kota sering kali memperbutkan lahan –lahan terbuka di kawasan perkotaan sehingga mengakibatkankan minimnya luasan ruang terbuka hijau (RTH). Keberadaan hutan kota sangat mendukung keberlangsungan sebuah kota jika ditinjau dari segi ekologis. Fungsi utama dari RTH salah satunya adalah sebagai penghasil oksigen. Namun faktanya dilapang, pembangunan kota sering kali tidak sesuai dengan perencanaan awal. Salah satu contohnya adalah pembangunan di kota Malang. Kota Malang mengalami perubahan fungsi dari ruang terbuka hijau (RTH) menjadi kawasan terbangun. Seharusnya ada 3.301,8 ha luas yang dicadangkan sebgai kawasan RTH menjadi tinggal 11,82% atau 1.303,19 ha (Masterplan Kota Malang. 2005). Apabila peningkatan produksi oksigen melalui penambahan dan perluasan hutan kota sulit dilakukan, perlu adanya upaya optimasi yaitu dengan mengoptimalkan produksivitas oksigen pada lahan-lahan yang dialokasikan sebagai hutan kota. Tedapat lima hutan kota Malang, yaitu (1) hutan kota Malabar, (2) hutan kota Jakarta, (3) hutan kota Velodrom, (4) hutan kota Indragiri, dan (5) hutan kota Buper Hamid Rusdi.
Hasil penelitian Sesanti N, Kurniawan B, dan Anggraeni M pada tahun 2011 menunjukkan bahwa Hutan kota Malang didominasi oleh tiga hingga empat komunitas vegetasi, yaitu vegetasi stratum B, C, D dan E yang tergabung dalam elemen lunak (soft element) hutan kota. Elemen keras (hard element) merupakan elemen minoritas dari masing-masing hutan kota. Keduanya memiliki perbandingan 91,44% dan 8,I 55%. Berdasarkan hasil analisis diperoleh pembagian bentuk hutan kota Malang: (a) hutan kota Malabar berbentuk bergerombol dan menumpuk, (b) hutan kota Jakarta berbentuk bergerombol dan menumpuk, (c) hutan kota Indragiri berbentuk menyebar dan menumpuk, (d) hutan kota Velodrom berbentuk menyebar dan menumpuk, dan (e) hutan kota Buper hamid Rusdi berbentuk menyebar dan menumpuk. Pada kondisi eksisting kemampuan hutan kota Malang dalam memproduksi oksigen adalah:

No Hutan kota Jumlah produksi oksoigen (gram/hari)
1. malabar 7.868.795,46
2. jkarta 4.884.104,58
3. indragiri 946.941,24
4. Velodrom 7.373.751,54
5. Buper Hamid Rusdi 5.777.439,40

Diketahui bahwa kemampuan terbesar dalam menghasilkan oksigen pada hutan kota Malang berada pada hutan kota Malabar, yaitu sebesar 7.868.795,46 gram oksigen/hari sedangkan kemampuan terendah berada pada hutan kota Indragiri, yaitu sebesar 946.941,24 gram oksigen/hari. 
Oleh sebab itu, upaya optimasi dilakukan melalui pembuatan model pengembangan vegetasi hutan kota, yaitu (a) Tata cara penanaman segi tiga (silang) → vegetasi tegakan (stratum B, C dan D), dan (b) luas penutupan (LP) = 100% → vegetasi pelantai (stratum E) dengan tetap mempertimbangakan adanya elemen keras pada masing-masing hutan kota. Pada vegetasi tegakan (stratum B, C, dan D), kerapatan vegetasi sangat berpengaruh pada produksi hutan kota Malang. Pada vegetasi pelantai (stratum E), luas penutupan (LP) sangat berpengaruh terhadap biomassa hutan kota Malang dan berpengaruh terhadap produksi oksigen. Jika kedua kondisi tersebut digunakan sebagai model pengembangan pada hutan kota, maka hutan dapat diprediksi besar produksi oksigen hutan kota Malang akan meningkat 40.039.978,01 gram atau lebih tinggi 149,12% lebih tinggi dari pada kondisi eksisting. Berdasarkan kondisi jumlah penduduk Kota Malang, pengembangan vegetasi hutan kota melalui penerapan model pengembangan vegetasi hutan kota ini mampu mensupport 9,5% kebutuhan oksigen Kota Malang. 
Berdasarkan model pengembangan hutan kota, kemampuan hutan kota Malang dalam menghasilkan oksigen meningkat menjadi seperti berikut ini:
No Hutan kota Jumlah produksi oksigen (gramhari)
1. Malabar 
16.859.783,07
2. Jakarta 
9.156.962,11
3. Jakarta 9.156.962,11
4. Velodrom 
22.511.225,16
5. Buper Hamid Rusdi 
13.440.095,46 gram/hari
Elemen keras berpengaruh terhadap produksi oksigen hutan kota Malang, baik pada vegetasi tegakan maupun pada vegetasi pelantai. Jika diasumsikan bahwa masingmasing hutan kota Malang tidak dilengkapi dengan elemen keras, maka (dengan menggunakan model pengembangan hutan kota) produksi oksigen hutan kota Malang akan 8.345.127,40 gram atau 12,48% lebih tinggi dari sebelumnya. 
Berdasarkan kondisi jumlah penduduk Kota Malang, pengembangan vegetasi hutan kota melalui penerapan model pengembangan vegetasi hutan kota ini mampu mensupport 10,6% kebutuhan oksigen Kota Malang (dengan asumsi bahwa elemen keras = 0). Berdasarkan model pengembangan hutan kota, kemampuan hutan kota Malang dalam menghasilkan oksigen dikaji ulang dengan asumsi bahwa masing-masing hutan kota Malang tidak memiliki elemen keras (luas hutan kota = luas efektif + luas elemen keras) maka produksi oksigen hutan kota Malang meningkat menjadi seperti berikut ini:
No Nama Jumlah produksi oksigen 
(gram/hari)
1. Malabar 18.220.278,09
2. Jakarta 9.725.259,83
3. Indragiri 9.725.259,83
4. Velodrom 22.781.030,77
5. Buper Hamid Rusdi 16.786.565,16
Berdasarkan penelitian di atas benar adanya upaya optimasi tersebut dapat meningkatkan jumlah produksi oksigen pada lahan-lahan di kota. Pengoptimalan tersebut salah satunya dengan cara merapatan vegetasi pada hutan kota.karena kerapatan vegetasi berbanding lurus dengan junklah oksigen yang dihasilkan. Semakin rapat vegetasi tegakannya (stratum B,C,,D) maka kemampuan memproduksi oksigen akan semakin tinggi pula. Maka dari itu penanaman vegetasi di hutan kota ini harus lebih rapat, sehingga dengan demikian pemilihan vegetai sangat mempengaruhi produksi oksigen pada lahan tersebut. Jenis vegetasi yang direkomendasikan adalah tegakan yang bertajuk rapat (berdaun lebar).hal ini dimaksudkan agar jumlah oksigen yang dihasilkan dari setiap tegakan dapat msksimal.

Manfaat tumbuhan sebagai tanaman obat

tanaman cocor bebek (Kallanchoe pinnata ata bryophyllum pinnatum) berasal dari famili Crasulaceae yang habitusnya berupa terna. tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat dalam mengobati wasir, muntah darah, radang amandel, sakit keapala, nyeri lambung serta mencet. tanaman yang tidak kalah pentingnya yaitu sirsak (Annona muricata) dari famili Annonaceae yang habitusnya berupa pohon dan dimanfaaatkan sebagai obat untuk penyakit kanker serviks, tumor, hipertensi, reumatik dan serangan jantung. tnaman alpuka (Persea americana) pun demikian  sangat bermaat ntuk mencegah anmia dan serangan jantung, juga biasa digunakan untuk kecantikan karen dapat memutihkan kulit. sehingga alpukat sering digunakan sebagai masker pada kebanyakan wnita…

abstract of etnobotany in bukit tiga puluh national park

ABSTRACT

Etnobotani research purpose to learn the plants utilized for fulfil economic as plant of culture with social dan environmental aspect by talang mamak tribe. Field data collection was done by observation and direct interview to tribe-head about plant utilized especially as medicine plant surround Bukit Tigapuluh National Park, Riau. From the research it result there are more 70 species of plants are use as medicinal plant. Five species among them are endangered species such as akar kuning (Arcangelisia flava), dan pulai (Alstonia scholaris). Moreover there are some species having potency for develop in the future such as kulim (Scorodocarpus borneensis), pinang (Areca catechu), jernang (Daemonorops draco), kasai (Pometia pinnata), asam gelugur (Garcinia atroviridis), ambeu (Brucea javanica) dan nilam (Pogostemon cablin). Still need continuation research about chemistry content from that plants and right dose to cure desease.

Key word: Etnobotani, Medicinal plant, Talang Mamak tribe, Bukit Tigapuluh National Park, Riau

 

Standar Kinerja Pengelolaan Taman Nasional

Kawasan konservasi sebagian terhampar di dalam wilayah satu kabupaten/kota dan sebagian lagi terhampar di wilayah lintas kabupaten/kota atau propinsi. Oleh karena itu bentuk pengelolaan kolaboratif menjadi suatu keharusan guna pencapaian pengelolaan Taman Nasional lestari. Untuk memastikan bahwa kawasan konservasi dapat dikelola secara lestari maka diperlukan suatu standar pengelolaan kawasan konservasi. Keberhasilan pengelolaan suatu kawasan konservasi dapat diukur kinerja pengelolaannya melalui kriteria dan indikator yang disepakati oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) kawasan konservasi. Tujuan penyusunan standar kinerja ini adalah untuk memperoleh bentuk pengelolaan kawasan konservasi, khususnya Taman Nasional yang dapat diterapkan di masa depan agar terjadi pengelolaan kawasan konservasi/Taman Nasional yang lestari.
Ada bebrapa istilah untuk menjelaskan pengertian standar pengelolaan yaitu Pengelolaan Kinerja, Pengukuran kinerja, ukuran kinerja, dan standar. Pengelolaan Kinerja adalah penggunaan informasi pengukuran kinerja untuk mendapatkan efek perubahan budaya, proses, dan sistem organisasi. Sedangkan pengukuran kinerja merupakan proses penilaian terhadap kemajuan yang telah dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan , termasuk informasi mengenai efesiensi sumberdaya yang digunakan dalam menghasilkan barang/jasa, kualitas output yang dihasilkan, outcomes, dan efektifitas pelaksanaan setiapkegiatan terhadap hasil tujuan yang ingin tercapai. Sebelum ada pengukuran kinerja, terlebih dahulu kita menetapkan ukuran kinerja yaitu merupakan standar yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam pencapian tujuan. Maka standar diartikan sebagia ukuran secara eksplisit yang dibutuhkan dalam sebuah rencana dan pengelolaan. Standar ditentukan untuk menunjukkan pencapaian suatu keadaan yang diinginkan dan tujuan yang ditetapkan dalam sebuah rencana atau pengelolaan serta berkesusaian dengan hukum, regulasi, dan kebijakan yang dibelakukan. Standar harus dapat diadaptasikan dan merupakan penilaian ukuran kinerja.
Berbicara tentang standar kinerja ada beberapa komponen didalamnya yaitu (1). komponen utama antara lain prinsip, kriteria, indikator + skala intensitasnya, verifier (2). prosedur penilaian yang meliputi skrining assessment, audit internal, audit eksternal.
Kawasan konservasi khususnya harus dikelola secara lestari untuk memenuhi kebutuhan social, ekonomi, ekologi, budaya, dan spiritual masyarakat saat ini serta generasi yang akan datang. Dengan demikian tujuan pengelolaan kawasan konservasi harus meliputi : a. Perlindungan proses ekologi dan system penyangga kehidupan, b. pengawetan keanekaragaman hayati, c. pemanfaatan yang lestari. Tujuan pengelolaan Taman Nasional akan tercapai apabila terjadi hal-hal berikut ini :
1. Kemantapan kawasan
2. Kelestarian fungsi ekologi
3. Kelestarian fungsi ekonomi sumberdaya alam (SDA)
4. Kelastarian fungsi social budaya
Dimensi manajemen Taman Nasional antara lain yaitu :
a. Manajemen kawasan yang meliputi pengukuhan kawasan, penataan kawasan, dan pengamatan kawasan.
b. Manajeman Sumberdaya Alam yang meliputi Perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, pemanfaatan sumberdaya alam.
c. Manajemen Kelembagaan yang meliputi penataan organisasi, sumberdaya manusia, serta keuangan.